Rabu, 23 Oktober 2013

Saatnya Islam Menjadi Visi Pergerakan Pemuda


                       
Kata “pemuda” akan membuat orang-orang berpikir tentang agent of change, semangat yang membara, kekuatan yang tiada habisnya, daya kreasi yang tak pernah terhenti, dan generasi untuk kepemimpinan Negara di masa depan. Pemuda adalah tulang punggung peradaban, peradaban di dalam masyarakat, pemuda merupakan satu identitas yang potensial dengan mempunyai kedudukan yang strategis sebagai penerus cita – cita perjuangan bangsa dan sumber insani bagi pembangunan bangsanya. Pemuda memiliki potensi yang sangat besar dalam melakukan proses perubahan. Pemuda adalah sosok yang suka berkreasi, idealis dan memiliki keberanian serta menjadi inspirator dengan gagasan dan tuntutannya. 

Generasi muda adalah penentu perjalanan bangsa di masa berikutnya. generasi muda,  mempunyai kelebihan dalam pemikiran yang ilmiah, selain semangat mudanya, sifat kritisnya, kematangan logikanya. Pemuda adalah motor penggerak utama perubahan. Pemuda diakui perannya sebagai kekuatan pendobrak kebekuan dan kejumudan masyarakat.

Namun pada faktanya, sistem kapitalis telah membuat pemuda jauh dari hakikat dirinya sebagai agen perubahan. Karena realita pemuda saat ini cenderung hedonisme dan hura-hura.  Gaya hidup pesta dan dugem yang kian hari kian meluas. Genk motor, playstation dan game online, gila bola luar biasa, Kontes Idol dan sejenisnya pun sangat diminati kaum pemuda, belum lagi Himpitan kurikulum dan ekonomi, pengarusan gaya hidup hedonis dsb, seakan telah memaksa pemuda memilih prinsip hidup pragmatis.  Peran strategis pemuda pun seakan-akan telah dimandulkan.

Yang lebih parah lagi kemerosotan keimanan dan ketakwaan kepada Allah SWT, sangat jauh sekali dari nilai-nilai ajaran islam yang mayoritas penduduk indonesia bahkan pemudanya sekalipun beragama islam. Agama hanya dijadikan kedok untuk menutupi kesalahan, agama hanya di jadikan sebagai  aktivitas ritual saja.

Lalu sekarang, apakah masih layak pemuda masa kini di sebut sebagai “Agen of Change”? ketika orientasi pemuda sudah beralih menjadi individualis, tidak keritis dan apolitis. Faktanya keberadaan pemuda sekarang sangat jauh sekali dari peran “Agen of Change” itu sendiri. bagaimana jadinya jika yang menggenggam nasib para pemuda saat ini ternyata sistem kapitalisme-sekulerisme dan liberalisme? bukankah yg terjadi saat ini para pemuda menjadi estafet kepemimpinan kapitalis yang rakus tanpa ketuhanan dengan hidup sebebas-bebasnya yg kebahagiaan dunia sebagai tujuan hidupnya. faktanya demokrasi hanya memberikan kemaslahatan pada individu-individu saja. Intinya demokrasi telah “gagal total” untuk mensejahterakan rakyat.  Cukup sabarkah pemuda masa kini dengan keadaan ini hingga enggan bergerak, Atau hanya geram tanpa ada action, padahal di satu sisi masih ada solusi yang dapat mengeluarkan rakyat dari permasalahan ini.

Namun demikian, tidak semua realitas pemuda jauh dari hakekat dirinya sebagai agen perubahan. Masih ada para pemuda yang memiliki kesadaran dan keinginan untuk berjuang membangkitan umat, hanya saja arah perjuangan yang akan mereka tempuh dan perjuangkan tidak membawa kepada kebangkitan yang hakiki. Karena terkungkung oleh sistem kapitalisme sekuler yang membuat arah perubahan pemuda menjadi semu. Sekali lagi demokrasi bukan jalan mewujudkan perubahan yang hakiki. Menggantungkan harapan terjadinya perubahan hakiki kepada demokrasi hanya akan mendatangkan kekecewaan. Fakta yang terjadi selama ini sudah menegaskan hal itu. Karena itu, tidak sepantasnya kita masih menaruh harapan pada demokrasi.

Pemuda  harus menyadari bahwasannya islam itu rahmat bagi seluruh alam. Islam itu tidak sesempit sebagai aktivitas ritual saja, tetapi islam itu mencakup seluruh aspek kehidupan, mengatur seluruh aspek kehidupan dengan syariahnya, baik pada bidang pendidikan, bidang ekonomi, bidang  sosial, bidang politik, bidang keamanan pertahanan dan sebagainya.  Untuk menerapkan syariah ini maka harus ada sistem pemerintahan Islam sendiri untuk menanunginya yaitu Khilafah. Salah jika ada orang yang beranggapan bahwa non-muslim tidak akan sejahtera, hak beragama non-muslim di kekang,  atau ketika Islam tegak  semua orang non-muslim itu beralih agama menjadi Islam. Pandangan tersebut salah karena pada massa kepemimpinan Umar bin Khattab r.a beliau tidak diam saja ketika Kedhaliman yang menimpa orang-orang non muslim. Seperti  kasus Kezaliman seorang anak penguasa di wilayah propinsi Mesir di masa kepemimpinannya. 

Dengan hal itu, apakah ketika ada solusi terbaik didepan kita, maka kita akan abaikan saja? Tentu tidak. Pemuda masa kini wajib bicara soal syariah karena Syariah Islam merupakan satu-satunya  pilihan dan konsekuensi keimanan kita kepada ALLah SWT dan Rasul-Nya. Syariah  hal yang rasional untuk diterapkan dalam rangka mengubah kedhaliman menjadi keadilan di tengah-tengah umat manusia. Pemuda harus sadar akan hal ini, karena peran pemuda adalah “Agen of Change” yang dapat merubah kondisi yang bobrok ini ke arah yang lebih baik.  Pemuda dengan kesadarannya akan takwa kepada Allah SWT harus mempunyai peran besar di tengah-tengah masyarakat, melakukan edukasi yaitu melakukan opini umum pada masyarakat,  hingga melakukan agregasi atau membentuk persepsi-persepsi yang sama di tengah masyarakat dan membentuk kesadaran mereka, dan terakhir artikulasi, membentuk perubahan menuju indonesia lebih baik dengan syariat Islam.


Desy Mayangsari

Tidak ada komentar:

Posting Komentar